Pemkab Wajo Kembangkan Pertanian Organik Berbasis Teknologi

Pemkab Wajo Kembangkan Pertanian Organik Berbasis Teknologi

Pemkab Wajo, Sulawesi Selatan, meluncurkan program strategis untuk mengembangkan pertanian organik berbasis teknologi. Langkah ini merupakan respons terhadap tantangan pertanian modern, seperti ketergantungan terhadap bahan kimia, penurunan kualitas lahan, serta tuntutan pasar terhadap produk yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Program ini secara resmi di perkenalkan dalam acara “Gerakan Wajo Organik 2025” yang berlangsung di Kecamatan Tempe, pusat pemerintahan kabupaten.

Bupati Wajo, Amran Mahmud, menjelaskan bahwa pengembangan pertanian organik merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan pangan lokal dan mendukung pertanian berkelanjutan. “Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan pola pertanian konvensional yang merusak tanah dan bergantung pada impor pupuk kimia. Kita harus beralih ke sistem yang lebih alami, sehat, dan menguntungkan petani,” ujarnya dalam pidatonya.

Selain itu, Wajo di kenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan, sehingga inovasi dalam sektor pertanian memiliki dampak luas tidak hanya secara lokal tetapi juga regional. Dalam tahap awal program ini, lahan seluas 200 hektare di lima kecamatan akan di jadikan percontohan pertanian organik yang menggunakan teknologi pemantauan tanah, irigasi tetes pintar, serta aplikasi berbasis Android untuk manajemen tanam.

Program ini juga melibatkan akademisi dari Universitas Hasanuddin dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan untuk memastikan pendekatan ilmiah dalam setiap tahap. Langkah kolaboratif ini di nilai penting untuk menghindari pendekatan trial-and-error yang sering terjadi dalam program inovasi pertanian di daerah.

Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari masyarakat petani yang selama ini terbebani oleh harga pupuk dan pestisida yang terus naik. Beberapa petani bahkan telah mulai belajar teknik pembuatan kompos, pestisida nabati, dan pengendalian hama terpadu dari pelatihan yang di sediakan oleh Dinas Pertanian setempat.

Pemkab Wajo dengan program ini, Pemkab Wajo berharap dapat meletakkan dasar pertanian masa depan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga menyehatkan dan melindungi lingkungan hidup.

Teknologi Digital Menjadi Tulang Punggung Pertanian Organik Menurut Pemkab Wajo

Teknologi Digital Menjadi Tulang Punggung Pertanian Organik Menurut Pemkab Wajo adalah penggunaan teknologi digital yang terintegrasi dalam semua proses pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga distribusi hasil panen. Pemerintah daerah bekerja sama dengan startup agritech lokal untuk mengembangkan platform digital bernama “Wajo Tani Pintar”. Aplikasi ini dapat di gunakan oleh petani untuk mendapatkan informasi cuaca, jadwal tanam, konsultasi dengan penyuluh, hingga pemasaran produk secara daring.

Melalui aplikasi ini, petani bisa memantau kelembaban tanah menggunakan sensor yang terhubung dengan Internet of Things (IoT), mengatur irigasi otomatis, hingga mencatat hasil panen secara real-time. Hal ini di harapkan dapat mengurangi kesalahan dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan efisiensi produksi. Teknologi ini juga di lengkapi sistem peringatan dini terkait hama dan penyakit tanaman yang datanya di peroleh dari drone pengintai yang di gunakan secara berkala.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Wajo, teknologi digital akan menjadi solusi atas keterbatasan tenaga penyuluh pertanian. “Dulu satu penyuluh harus menangani puluhan desa. Sekarang, dengan bantuan aplikasi, setiap petani bisa konsultasi langsung melalui video call atau chat, bahkan saat malam hari,” ujarnya. Selain itu, aplikasi ini juga terkoneksi dengan koperasi tani dan lembaga pembiayaan mikro untuk mempermudah akses modal.

Di sisi lain, para petani muda yang tergabung dalam komunitas “Petani Milenial Wajo” juga sangat antusias dengan transformasi digital ini. Mereka bahkan mengembangkan konten edukasi pertanian di TikTok dan Instagram untuk menjangkau generasi sebaya dan mempromosikan pertanian sebagai sektor yang modern dan menjanjikan.

Namun, tidak semua petani langsung menerima teknologi ini tanpa tantangan. Sebagian petani lansia masih mengalami kesulitan dalam mengoperasikan aplikasi, sehingga pelatihan teknologi di selenggarakan secara rutin di balai desa. Setiap kelompok tani juga di bentuk “Duta Digital” yang bertugas menjadi penghubung antara teknologi dan petani tradisional.

Dampak Ekonomi Langsung: Harga Lebih Stabil, Pendapatan Petani Naik

Dampak Ekonomi Langsung: Harga Lebih Stabil, Pendapatan Petani Naik adalah peningkatan pendapatan petani secara signifikan. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Wajo, petani yang tergabung dalam program organik mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 20-30% di bandingkan dengan petani konvensional. Hal ini di sebabkan oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk organik yang bersertifikat, baik dari dalam maupun luar daerah.

Produk-produk seperti beras organik, sayur mayur tanpa pestisida, serta rempah-rempah hasil pertanian alami menjadi incaran konsumen di kota-kota besar seperti Makassar, Jakarta, hingga Surabaya. Pemerintah daerah memfasilitasi distribusi produk ini melalui koperasi dan e-commerce agrikultur. Bahkan beberapa produk sudah mulai di ekspor dalam skala kecil ke Singapura dan Malaysia.

Petani seperti Pak Kamaruddin dari Kecamatan Pammana mengaku semula ragu dengan pertanian organik. Namun setelah mencoba, ia tidak hanya mendapat hasil panen lebih baik, tetapi juga pembeli tetap dari pasar swalayan organik di Makassar. “Dulu jual beras cuma Rp8.000 per kilo, sekarang bisa sampai Rp14.000. Itu pun banyak yang pesan lewat online,” ujarnya.

Selain pendapatan, biaya produksi juga menurun drastis karena tidak ada lagi pengeluaran untuk pupuk kimia dan pestisida sintetis. Petani kini membuat pupuk kompos dari jerami dan kotoran hewan, serta menggunakan larutan fermentasi alami untuk pengendalian hama. Pelatihan pembuatan bahan organik di sediakan gratis oleh pemerintah melalui balai penyuluhan.

Tak kalah penting, para petani juga mendapatkan insentif tambahan dalam bentuk subsidi bibit, alat semprot ramah lingkungan, hingga pelatihan pemasaran digital. Bank daerah juga memberikan akses KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga ringan khusus untuk petani organik binaan.

Dengan dampak ekonomi yang langsung di rasakan, banyak petani konvensional mulai beralih ke sistem pertanian organik. Pemerintah mencatat lonjakan pendaftaran peserta program mencapai 60% sejak awal tahun, dan di perkirakan akan terus meningkat. Ini menjadi sinyal positif bagi masa depan pertanian yang lebih berkelanjutan dan mensejahterakan.

Visi Jangka Panjang: Wajo Sebagai Sentra Pertanian Organik Sulawesi

Visi Jangka Panjang: Wajo Sebagai Sentra Pertanian Organik Sulawesi, Pemkab Wajo menargetkan menjadi. Sentra pertanian organik terbesar di Sulawesi dalam lima tahun ke depan. Strategi ini tidak hanya menitikberatkan pada sisi produksi, tetapi juga pada pembentukan ekosistem pertanian organik yang lengkap, mulai dari sertifikasi, distribusi, hingga pemasaran internasional.

Pemerintah daerah sedang mempersiapkan Peraturan Bupati tentang Tata Kelola Pertanian Organik. Yang akan memberikan perlindungan hukum serta insentif kepada pelaku usaha organik. Salah satu poin penting adalah sistem sertifikasi berbasis komunitas. Sehingga petani tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk memperoleh label organik yang diakui pasar.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung juga sedang dilakukan. Di antaranya adalah gudang penyimpanan khusus produk organik, pasar khusus produk hijau, dan pusat riset organik terpadu di Kecamatan Tanasitolo. Pemerintah juga berencana menggelar “Wajo Organic Fair” setiap tahun sebagai ajang promosi sekaligus edukasi masyarakat.

Dari sisi pendidikan, kurikulum pertanian di SMK dan pesantren pertanian mulai disesuaikan untuk mendukung visi organik. Generasi muda didorong untuk terlibat aktif sebagai petani modern melalui beasiswa. Pelatihan teknologi, dan magang ke negara-negara maju seperti Jepang dan Belanda.

Kerja sama internasional juga menjadi fokus. Pemkab Wajo tengah menjajaki kolaborasi dengan lembaga agrikultur Jepang dan Belanda untuk transfer teknologi dan pemasaran produk. “Kami tidak ingin hanya sukses lokal, tapi menjadi contoh global. Wajo punya potensi, tinggal bagaimana kita kelola dengan serius,” kata Bupati Amran.

Dengan berbagai inisiatif tersebut, Pemkab Wajo optimistis mampu menjadi pelopor pertanian masa depan: sehat, cerdas, dan berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia dalam menghadapi. Tantangan ketahanan pangan dan perubahan iklim global dengan Pemkab Wajo.