
Demi Ambisi AI, AS Rela Korbankan Iklim Lewat PLTG Baru
Demi Ambisi AI, AS Rela Korbankan Iklim Lewat PLTG Baru Yang Memiliki Dampak Sangat Berbahaya Bagi Lingkungan. Tentunya Demi Ambisi AI, Amerika Serikat (AS) dalam menguasai teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Terlebihnya mulai menimbulkan kekhawatiran serius bagi lingkungan global. Di balik pesatnya perkembangan pusat data yang menopang layanan AI. Dan yang tersembunyi lonjakan kebutuhan energi yang sangat besar. Untuk memenuhinya, AS justru memimpin pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) baru. Dan menjadi ssebuah langkah yang dinilai memperparah krisis iklim. Laporan terbaru Global Energy Monitor (GEM) menyebutkan bahwa tahun 2026 di prediksi akan memecahkan rekor penambahan PLTG baru secara global. Ironisnya, sebagian besar proyek ini di dorong oleh kebutuhan listrik pusat data AI yang di kenal sangat boros energi. Tentunya dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK). Mari kita simak AS yang rela korbankan iklim lewat PLTG Demi Ambisi AI.
AS Jadi Motor Utama Pembangunan PLTG Global
Amerika Serikat tercatat sebagai negara yang memimpin kenaikan pembangunan PLTG baru di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, AS agresif menambah kapasitas pembangkit berbahan bakar gas. Tentunya untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil, terutama bagi sektor teknologi. Menurut laporan GEM yang di kutip The Guardian pada Sabtu (31/1/2026), proyek-proyek PLTG. Terlebih yang sedang di kembangkan berpotensi meningkatkan kapasitas gas global hampir 50 persen dari yang ada saat ini. Dan angka ini menunjukkan betapa masifnya ekspansi energi fosil. Meski dunia sedang gencar mendorong transisi ke energi terbarukan. Langkah AS ini di nilai kontras dengan komitmen pengurangan emisi yang kerap di suarakan di forum internasional. Alih-alih menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Serta dengan pembangunan PLTG justru memperpanjang umur energi gas dalam sistem kelistrikan global.
Pusat Data AI Jadi Pemicu Lonjakan Konsumsi Energi
Salah satu pendorong utama pembangunan PLTG baru adalah kebutuhan listrik pusat data yang melayani AI. Teknologi AI modern membutuhkan daya komputasi besar, server beroperasi tanpa henti. Serta sistem pendingin yang intensif energi. Ekspansi bisnis pusat data di AS berlangsung sangat cepat. Kemudian juga dengan seiring meningkatnya permintaan layanan AI di berbagai sektor, mulai dari bisnis, kesehatan, hingga militer. Kondisi ini membuat kebutuhan listrik melonjak drastis dalam waktu singkat. PLTG di pilih karena dianggap mampu menyediakan listrik stabil dan cepat di bangun di banding pembangkit energi terbarukan. Namun, solusi cepat ini membawa konsekuensi jangka panjang berupa peningkatan emisi GRK yang signifikan.
Dampak Emisi Gas Rumah Kaca Kian Mengkhawatirkan
Meski gas sering disebut lebih “bersih” di banding batu bara. Namun PLTG tetap menghasilkan emisi karbon dioksida dan metana yang berkontribusi pada pemanasan global. Jika kapasitas PLTG global benar-benar meningkat hampir 50 persen. Dan juga lonjakan emisi GRK menjadi ancaman nyata. Para pegiat lingkungan menilai ekspansi PLTG untuk menopang AI sebagai langkah mundur dalam upaya menahan kenaikan suhu bumi. Alih-alih mempercepat transisi energi bersih. Namun dunia justru terjebak dalam ketergantungan baru pada gas fosil. Situasi ini di khawatirkan akan menyulitkan pencapaian target iklim global, termasuk pembatasan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat Celsius. Ambisi teknologi yang tidak di imbangi kebijakan energi hijau berpotensi mempercepat krisis iklim.
Dilema Antara Inovasi Teknologi Dan Keberlanjutan Iklim
Kasus PLTG dan AI di AS mencerminkan dilema besar dunia modern. Terlebihnya bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keberlanjutan lingkungan. AI menawarkan efisiensi, kemajuan ekonomi, dan solusi berbagai masalah. Akan tetapi di sisi lain menuntut energi dalam skala masif. Tanpa regulasi ketat dan komitmen kuat pada energi terbarukan, perkembangan AI justru bisa menjadi bumerang bagi planet ini. Para ahli mendorong agar pusat data masa depan lebih banyak di tenagai energi bersih seperti surya dan angin.
Serta meningkatkan efisiensi sistem komputasi. Laporan GEM menjadi alarm keras bahwa arah kebijakan energi global perlu di evaluasi. Jika tidak, dunia berisiko menukar masa depan iklim demi kenyamanan teknologi jangka pendek. Ambisi AI seharusnya tidak berjalan di atas pengorbanan lingkungan. Pembangunan PLTG baru yang masif, terutama di AS, menunjukkan bahwa transisi energi masih menghadapi tantangan besar. Ke depan, pilihan kebijakan hari ini akan menentukan apakah teknologi menjadi solusi. Atau justru memperparah krisis iklim yang sudah di depan mata terkait Demi Ambisi AI.