
Pengerukan Pasir Laut Ganggu Kemampuan Bahari Serap Karbon Dioksida
Pengerukan Pasir Laut Ganggu Kemampuan Bahari Serap Karbon Dioksida Dan Tentunya Hal Ini Mengubah Fungsi Laut. Saat ini Pengerukan Pasir Laut bukan hanya berdampak pada kerusakan fisik lingkungan pesisir dan dasar laut, tapi juga memberi pengaruh besar terhadap fungsi ekologis laut sebagai penyerap karbon alami. Aktivitas pengerukan, yang umumnya dilakukan untuk reklamasi, pembangunan infrastruktur pesisir, atau kepentingan komersial, akan mengangkat material pasir dan sedimen dari dasar laut. Proses ini merusak habitat bentik, seperti padang lamun dan terumbu karang, yang memiliki peran penting dalam menyimpan karbon. Padang lamun, misalnya, merupakan salah satu ekosistem laut yang sangat efisien dalam menyerap dan menyimpan karbon biru karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dan laut.
Saat ekosistem seperti lamun, rumput laut, dan endapan organik di dasar laut terganggu atau hancur akibat pengerukan, simpanan karbon yang selama ini tersimpan ratusan bahkan ribuan tahun dapat terlepas kembali ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Ini membuat laut yang seharusnya menjadi penyerap karbon malah berubah menjadi sumber emisi. Dampaknya jelas memperparah krisis iklim yang tengah dihadapi dunia. Tak hanya itu, pengerukan juga mengganggu keseimbangan rantai makanan laut, karena banyak mikroorganisme dan biota kecil yang hidup di sedimen laut menjadi terganggu bahkan mati.
Efek domino dari pengerukan ini juga terasa hingga ke permukaan laut dan garis pantai. Erosi pantai meningkat karena hilangnya penghalang alami, sementara kualitas air laut menurun akibat partikel halus yang terangkat ke permukaan dan mengganggu proses fotosintesis tanaman laut. Gangguan ini menyebabkan kemampuan ekosistem laut untuk menjalankan fungsi ekologisnya menurun drastis. Jika dilakukan secara masif dan tanpa kontrol, pengerukan pasir laut berisiko melemahkan peran laut sebagai buffer alami terhadap perubahan iklim.
Pengerukan Pasir Laut Menimbulkan Kerusakan Berlapis
Pengerukan Pasir Laut Menimbulkan Kerusakan Berlapis yang tidak hanya berdampak langsung pada ekosistem dasar laut, tetapi juga merambat hingga ke lingkungan pesisir, kehidupan masyarakat, dan stabilitas iklim. Kerusakan pertama yang paling nyata adalah hancurnya habitat bentik seperti padang lamun, terumbu karang, dan dasar laut berlumpur yang menjadi tempat hidup berbagai biota laut. Ketika pasir dikeruk, organisme yang tinggal di dalam dan sekitar sedimen akan terganggu, terlantar, atau bahkan mati. Padang lamun, misalnya, sangat rentan rusak karena akarnya terangkat dan tidak dapat lagi menjalankan fungsinya sebagai penyerap karbon dan tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil.
Kerusakan kedua muncul dalam bentuk penurunan kualitas air laut. Pengerukan mengangkat partikel halus dan lumpur ke permukaan, menyebabkan kekeruhan yang tinggi. Ini mengganggu proses fotosintesis tumbuhan laut seperti lamun dan fitoplankton, yang membutuhkan cahaya untuk tumbuh. Akibatnya, produktivitas ekosistem laut menurun dan rantai makanan terganggu. Selanjutnya, erosi pantai menjadi dampak lapis berikutnya. Ketika pasir laut diambil dalam jumlah besar, terjadi ketidakseimbangan antara suplai dan kehilangan sedimen di pesisir.
Hal ini membuat pantai lebih cepat terkikis oleh ombak dan arus, menyebabkan garis pantai mundur dan mengancam permukiman serta infrastruktur yang berada di dekatnya. Lapisan kerusakan lainnya terjadi pada fungsi penyerapan karbon. Ekosistem seperti padang lamun dan endapan organik di dasar laut berperan sebagai penyimpan karbon jangka panjang. Saat habitat ini rusak, karbon yang tersimpan bisa lepas kembali ke atmosfer, memperburuk pemanasan global.
Dampak Global
Dampak Global dari pengerukan pasir laut jauh melampaui batas wilayah negara yang melakukannya, karena menyentuh aspek-aspek penting yang berkaitan dengan krisis iklim, keanekaragaman hayati laut, dan stabilitas lingkungan pesisir dunia. Pengerukan pasir laut, terutama jika di lakukan secara besar-besaran dan tanpa pengawasan ketat, berkontribusi langsung terhadap meningkatnya emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer. Hal ini terjadi karena ekosistem seperti padang lamun dan endapan sedimen laut dalam yang biasanya menyimpan karbon dalam jumlah besar akan terganggu atau hancur. Ketika struktur sedimen rusak dan karbon yang telah tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun terlepas kembali ke atmosfer, maka potensi laut sebagai penyerap karbon (carbon sink) global menjadi lemah, dan sebaliknya berubah menjadi sumber emisi.
Selain itu, pengerukan pasir laut juga berdampak pada turunnya keanekaragaman hayati laut dunia. Habitat alami berbagai spesies laut, termasuk yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan laut, ikut terganggu atau bahkan musnah. Kehilangan keanekaragaman ini bukan hanya menjadi persoalan ekologis, tapi juga berdampak pada ketahanan pangan laut global. Negara-negara yang bergantung pada hasil laut sebagai sumber protein utama akan merasakan efek jangka panjangnya. Gangguan pada populasi ikan juga dapat memicu konflik sumber daya antarwilayah, khususnya jika wilayah tangkapan ikan semakin sempit akibat terganggunya ekosistem laut.
Di sisi lain, peningkatan risiko bencana alam juga menjadi bagian dari dampak global pengerukan pasir laut. Pantai-pantai yang kehilangan pasir secara masif menjadi lebih rentan terhadap abrasi, banjir rob, dan badai pesisir. Jika terjadi di banyak wilayah sekaligus, ini mempercepat kerusakan kawasan pesisir dunia yang menjadi tempat tinggal ratusan juta orang. Dalam jangka panjang, pengerukan pasir laut juga memperbesar tekanan terhadap negara-negara kecil kepulauan. Yang sangat bergantung pada ekosistem laut yang stabil.
Menyebabkan Perubahan Fungsi Laut
Pengerukan pasir laut secara masif telah Menyebabkan Perubahan Fungsi Laut yang cukup signifikan. Dari yang awalnya menjadi penyedia jasa ekosistem penting bagi kehidupan, menjadi wilayah yang kehilangan keseimbangan ekologisnya. Salah satu fungsi utama laut adalah sebagai penyerap karbon alami atau carbon sink. Ekosistem seperti padang lamun, rawa bakau, dan sedimen laut dalam memiliki kemampuan. Untuk menyimpan karbon dalam jumlah besar selama ribuan tahun. Namun, saat aktivitas pengerukan merusak ekosistem tersebut, karbon yang tersimpan bisa terlepas kembali. Ke atmosfer sebagai karbon dioksida (CO2), menjadikan laut bukan lagi penyerap, tetapi sumber emisi gas rumah kaca. Ini tentu memperburuk kondisi iklim global yang semakin tidak menentu.
Selain itu, laut juga berfungsi sebagai habitat bagi berbagai jenis biota laut, dari mikroorganisme. Hingga ikan-ikan besar yang mendukung rantai makanan laut. Saat pasir laut di keruk, habitat-habitat penting seperti terumbu karang dan dasar laut berlumpur hancur. Akibatnya, banyak spesies kehilangan tempat hidup, berkembang biak, dan mencari makan. Ini menyebabkan penurunan populasi ikan dan mengganggu keseimbangan rantai makanan di laut. Dampak berikutnya bisa di rasakan oleh masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup. Dari hasil tangkapan ikan, karena produktivitas laut akan terus menurun.
Fungsi pelindung alami dari laut pun ikut berkurang. Pasir laut berperan dalam menjaga kestabilan garis pantai dan menghalangi gelombang besar yang bisa merusak wilayah pesisir. Ketika pasir di keruk, struktur alamiah ini menjadi tidak stabil. Menyebabkan peningkatan abrasi, banjir rob, dan risiko tinggi terhadap badai laut. Wilayah pesisir pun menjadi lebih rentan terhadap bencana. Inilah perubahan fungsi laut akibat adanya Pengerukan Pasir Laut.