
Balap Mobil Listrik Formula E Kembali Digelar Di Jakarta
Balap Mobil Listrik setelah kesuksesan penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, Jakarta kembali diperc aya sebagai tuan rumah ajang balap mobil listrik internasional, Formula E, yang akan di gelar pada 14–15 Juni 2025 di Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC), Ancol. Keputusan ini di umumkan oleh Federasi Otomotif Internasional (FIA) dan Formula E Operations (FEO) dalam rilis resmi yang menyebut Jakarta sebagai salah satu destinasi strategis dalam kalender musim ke-11 ajang balap bergengsi ini.
Kembalinya Formula E ke Jakarta membuktikan bahwa ibu kota Indonesia memiliki kapasitas dan infrastruktur memadai untuk menggelar event olahraga kelas dunia dengan standar keberlanjutan tinggi. Ajang ini tidak hanya menghadirkan tontonan menarik bagi penggemar balap, tetapi juga menjadi simbol komitmen Jakarta terhadap transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Formula E di kenal sebagai balapan yang mendukung teknologi bersih, dengan seluruh mobil menggunakan tenaga listrik penuh tanpa emisi.
Tahun ini, penyelenggaraan Formula E di Jakarta di janjikan lebih megah. Dengan tema “Drive The Future”, panitia akan menghadirkan berbagai acara pendamping seperti festival teknologi hijau, konser musik, hingga pameran kendaraan listrik dari berbagai produsen global dan lokal. Tiket yang mulai di jual pada April 2025 mencakup berbagai kategori, dari reguler hingga VIP dengan akses eksklusif ke paddock dan pit lane.
Balap Mobil Listrik dengan persiapan yang lebih matang dan dukungan berbagai pihak, Jakarta siap menjadi sorotan dunia. Kehadiran tim-tim besar seperti Porsche, Jaguar, Nissan, hingga Maserati, serta pembalap-pembalap top dunia, di yakini akan menyulut euforia motorsport yang lebih besar. Kembali digelarnya Formula E bukan hanya prestasi bagi Jakarta, tapi juga pengakuan atas peran penting Indonesia dalam peta balap listrik dunia.
Teknologi Ramah Lingkungan Jadi Sorotan
Teknologi Ramah Lingkungan Jadi Sorotan, melainkan juga panggung utama untuk unjuk gigi teknologi ramah lingkungan di sektor otomotif. Mobil-mobil yang di gunakan dalam kompetisi ini seluruhnya bertenaga listrik, tanpa emisi karbon, serta mengandalkan baterai canggih yang terus di kembangkan untuk efisiensi dan kecepatan maksimal. Di sinilah perbedaan paling mencolok antara Formula E dan balapan konvensional seperti Formula 1 atau MotoGP.
Mobil generasi terbaru yang akan di gunakan di musim ini adalah Gen3 Evo, kendaraan balap listrik paling ringan dan tercepat yang pernah di buat dalam sejarah Formula E. Dengan kecepatan maksimal mencapai 320 km/jam dan sistem regeneratif yang mampu mengisi ulang baterai saat pengereman, teknologi ini menjadi bukti nyata bahwa kendaraan listrik tidak kalah dari mobil berbahan bakar fosil, bahkan bisa lebih unggul dari sisi efisiensi energi.
Di luar arena balap, penyelenggara juga akan menghadirkan “Innovation Hub”, sebuah area edukatif tempat publik dapat melihat langsung prototipe teknologi hijau, seperti charging station ultra-cepat, sistem energi surya untuk pengisian mobil, hingga demonstrasi mobil swakemudi. Dalam pameran ini, beberapa universitas teknologi di Indonesia juga akan turut serta menampilkan inovasi hasil riset mahasiswa dalam bidang kendaraan listrik dan energi baru terbarukan.
Perusahaan-perusahaan otomotif nasional pun tak mau ketinggalan. Beberapa pabrikan lokal seperti Wuling, Hyundai Indonesia, dan DFSK akan memanfaatkan momen Formula E untuk memperkenalkan varian terbaru mobil listrik mereka yang akan di pasarkan di Indonesia. Ajang ini di prediksi akan mendorong pertumbuhan pasar EV (Electric Vehicle) secara signifikan.
Selain teknologi kendaraan, Formula E juga menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan dengan penerapan prinsip “zero waste”. Seluruh penyelenggaraan balapan di rancang minim limbah dan karbon, termasuk penggunaan energi dari sumber terbarukan untuk powering sirkuit, serta pemanfaatan kembali material bekas pakai. Jakarta sebagai tuan rumah juga di minta memenuhi standar lingkungan tinggi, termasuk pengelolaan sampah selama acara dan transportasi ramah lingkungan untuk penonton.
Dampak Ekonomi Dan Sosial Bagi Jakarta Dari Balap Mobil Listrik
Dampak Ekonomi Dan Sosial Bagi Jakarta Dari Balap Mobil Listrik yang signifikan bagi berbagai sektor. Mulai dari pariwisata, transportasi, kuliner, hingga usaha kecil menengah. Selama akhir pekan balapan, ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri di prediksi. Akan datang ke Jakarta, meningkatkan okupansi hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan. Tahun lalu saja, Jakarta mencatat perputaran ekonomi lebih dari Rp300 miliar selama tiga hari event.
UMKM menjadi pihak yang sangat di untungkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan panitia lokal menyatakan bahwa lebih dari 500 UMKM akan. Di libatkan dalam area bazar dan food court selama penyelenggaraan. Mulai dari makanan khas Betawi, kerajinan tangan. Hingga produk ramah lingkungan seperti tas daur ulang akan di jajakan di area publik Formula E. Hal ini merupakan bagian dari upaya membumikan ajang internasional ini ke dalam konteks lokal.
Selain sektor ekonomi, Formula E juga berdampak positif secara sosial. Banyak warga Jakarta, terutama generasi muda, terlibat sebagai relawan dan panitia lokal. Mereka di beri pelatihan teknis dan manajerial yang menjadi bekal untuk keterlibatan dalam event internasional lainnya. Bahkan beberapa perguruan tinggi menjadikan ajang ini sebagai proyek pembelajaran luar kelas dalam bidang manajemen event, teknik otomotif, hingga lingkungan.
Lebih jauh lagi, Formula E memicu peningkatan kesadaran publik terhadap pentingnya pengurangan emisi karbon. Melalui kampanye media sosial dan kegiatan edukatif, ajang ini mendorong masyarakat untuk mulai menggunakan. Transportasi umum, sepeda listrik, hingga kendaraan pribadi berbasis listrik. Pemerintah pun mendukung dengan menambah titik pengisian baterai (charging station) di sekitar lokasi event dan di beberapa area publik lainnya.
Tingkat partisipasi perempuan dalam event ini juga meningkat, baik sebagai penonton, kru, maupun pembalap wanita dari tim tertentu. Ini menjadi momentum inklusif untuk mendorong keterlibatan gender dalam olahraga dan teknologi. Dua sektor yang selama ini masih dominan oleh laki-laki.
Masa Depan Mobilitas Listrik Di Indonesia
Masa Depan Mobilitas Listrik Di Indonesia dengan kembalinya Formula E ke Jakarta, perhatian publik terhadap mobilitas listrik kembali menguat. Pemerintah Indonesia memanfaatkan momen ini untuk menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi. Besar-besaran ke kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi energi nasional menuju Net Zero Emissions tahun 2060.
Sejak 2022, sejumlah kebijakan telah di terbitkan, termasuk insentif pajak untuk pembelian mobil dan motor listrik. Pembangunan infrastruktur charging station nasional, serta peluncuran kendaraan listrik produksi lokal. Kementerian Perindustrian bahkan menargetkan produksi dua juta. Kendaraan listrik per tahun pada 2030, dengan dukungan investor dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.
Formula E menjadi simbol nyata dari arah kebijakan tersebut. Kehadiran balapan mobil listrik di Jakarta menandai bahwa Indonesia serius dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan. Bukan hanya di sektor transportasi, tetapi juga energi dan industri secara umum. Pemerintah juga mulai memperketat regulasi kendaraan konvensional, termasuk pelarangan mobil bermesin diesel di sejumlah kota besar dalam satu dekade mendatang.
Dalam jangka panjang, visi Indonesia adalah menjadi produsen baterai kendaraan listrik. Terbesar di Asia Tenggara, memanfaatkan potensi nikel yang besar di Sulawesi dan Maluku. Sejumlah perusahaan nasional telah menandatangani nota kesepahaman dengan pabrikan global untuk pengolahan baterai secara berkelanjutan.
Formula E di Jakarta menjadi jendela masa depan: sebuah dunia di mana kecepatan dan teknologi berpadu dengan keberlanjutan. Mobil listrik bukan lagi mimpi, tetapi realitas yang melaju cepat di tengah kita. Ajang ini membuktikan bahwa masa depan mobilitas bukan hanya tentang kendaraan. Tetapi juga tentang komitmen pada planet yang lebih bersih dan sehat dari Balap Mobil Listrik.