Tanah Longsor Kembangan: Penanganan & Pencegahan

Tanah longsor Terjadi di Kembangan, Jakarta Barat, Setelah Hujan Deras Mengguyur Wilayah Tersebut Pada Awal Januari 2025

Tanah Longsor Terjadi di Kembangan, Jakarta Barat, Setelah Hujan Deras Mengguyur Wilayah Tersebut Pada Awal Januari 2025. Pergerakan tanah menyebabkan sebagian bantaran Kali Angke amblas, mengancam permukiman warga, dan memerlukan penanganan cepat dari pihak berwenang untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada awal Januari 2025 memicu longsor di bantaran Kali Angke, tepatnya di Jalan H. Briti RT 06/RW 01, Kelurahan Kembangan Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Tanah amblas sepanjang 17 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter, menimpa area depan rumah warga dan memicu penanganan darurat dari pihak Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat.

Penanganan Tanah Longsor di lakukan secara cepat oleh Suku Dinas SDA Jakarta Barat, dengan mengerahkan sekitar 20 personel Satuan Tugas SDA atau Pasukan Biru dari Kecamatan Kembangan. Upaya darurat meliputi pemasangan tanggul kisdam—tumpukan karung berisi pasir dan tanah—serta cerucuk dolken sebagai struktur penahan untuk mencegah longsor susulan yang dapat membahayakan warga di sekitar lokasi.

Tanah longsor ini merupakan kejadian kedua di lokasi yang sama dalam lima tahun terakhir. Warga setempat menyebut longsor sebelumnya telah menimbulkan amblas pada bronjong yang ada, namun hujan deras kali ini kembali menggerus bagian depan rumah. Kejadian ini menunjukkan pentingnya penanganan permanen, seperti pembangunan tanggul bronjong batu kali, untuk meminimalkan risiko longsor susulan dan melindungi pemukiman warga.

Kronologi Longsor

Kronologi Longsor di Kembangan menunjukkan bahwa hujan deras yang turun pada Jumat, 2 Januari 2025, secara langsung memicu amblasnya tanah di bantaran Kali Angke. Pergerakan tanah ini berdampak pada permukiman warga, menyebabkan sebagian depan rumah terkikis dan menimbulkan risiko bagi keselamatan penghuni. Kondisi ini memaksa warga segera mengevakuasi diri dan memicu respons cepat dari pihak berwenang untuk menangani dampak yang di timbulkan.

Longsor terjadi pada Jumat, 2 Januari 2025, akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta Barat. Tanah di pinggir aliran Kali Angke terkikis, sehingga sebagian permukaan depan rumah warga amblas ke arah sungai. Berdasarkan hasil pendataan lapangan, area terdampak mencapai panjang sekitar 17 meter dengan kedalaman 4 meter.

Hasan, salah seorang warga yang rumahnya berada tepat di lokasi longsor, menuturkan bahwa ini adalah kejadian kedua di titik tersebut. “Sebelum amblas, depannya bronjong. Ini kedua kali. Pertama sudah lima tahun lalu, amblas lagi sekarang,” ujarnya. Longsor membuat sebagian tanah dan permukiman terdampak, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Dampak dari longsor ini cukup luas bagi warga. Rumah-rumah di sekitar pinggir Kali Angke mengalami kerusakan bagian depan. Selain itu, akses jalan di sekitar lokasi menjadi terbatas, menghambat mobilitas dan aktivitas sehari-hari warga. Longsor susulan berpotensi terjadi jika hujan deras kembali mengguyur, sehingga warga di sekitar lokasi di imbau tetap waspada.

Penanganan Darurat oleh Pasukan Biru

Penanganan Darurat oleh Pasukan Biru dilakukan segera setelah longsor terjadi di Kembangan. Satuan Tugas SDA dari Kecamatan Kembangan di kerahkan untuk memasang tanggul sementara menggunakan karung berisi pasir dan tanah, serta cerucuk dolken, sebagai upaya menahan pergerakan tanah lebih lanjut dan melindungi rumah warga di sekitar lokasi.

Menindaklanjuti kejadian, Suku Dinas SDA Jakarta Barat melakukan penanganan darurat pada Sabtu (3/1) dan Minggu (4/1). Kepala Sudin SDA Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menjelaskan bahwa langkah awal adalah memasang tanggul darurat dari karung berisi pasir dan tanah, serta cerucuk dolken sebagai penahan sementara.

Sekitar 20 personel Satuan Tugas SDA atau Pasukan Biru dari Kecamatan Kembangan di terjunkan untuk memastikan tanggul darurat terpasang dengan baik. Tujuan dari langkah ini adalah mencegah longsor susulan dan menjaga keselamatan warga di sekitar lokasi.

Langkah penanganan darurat ini memungkinkan aktivitas warga tetap berjalan, meski sebagian jalan dan area depan rumah terdampak longsor. Pihak Sudin SDA menekankan bahwa tanggul darurat bersifat sementara, dan perlu di tindaklanjuti dengan pembangunan struktur permanen agar risiko longsor berulang dapat di minimalkan.

Rencana Pencegahan dan Struktur Permanen

Rencana Pencegahan dan Struktur Permanen di siapkan untuk mengurangi risiko tanah longsor susulan di Kembangan. Pihak Suku Dinas SDA Jakarta Barat merencanakan pembangunan tanggul permanen menggunakan bronjong batu kali, yang di rancang lebih kokoh dan mampu menahan tekanan air saat hujan deras, sehingga pemukiman warga di sekitar bantaran Kali Angke dapat terlindungi secara lebih efektif.

Penanganan lanjutan akan di lakukan dengan membangun tanggul permanen menggunakan bronjong batu kali. Bronjong akan memberikan struktur penahan tanah yang lebih kuat dan mampu menahan tekanan air saat hujan deras. Pembangunan ini di jadwalkan mulai Senin (5/1), setelah penanganan darurat selesai dilakukan.

Pihak Sudin SDA menekankan pentingnya pemantauan berkala terhadap kondisi tanah dan aliran Kali Angke. Langkah ini bertujuan mengantisipasi potensi longsor susulan yang dapat terjadi saat hujan ekstrem atau saat debit air kali meningkat. Selain itu, warga di imbau tetap menjaga jarak aman dari bibir kali dan mengikuti instruksi petugas terkait keselamatan.

Upaya pencegahan ini juga melibatkan edukasi bagi masyarakat setempat. Warga di berikan informasi mengenai tanda-tanda tanah rawan longsor dan langkah-langkah evakuasi jika terjadi bencana. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan warga dan meminimalkan risiko kerugian material maupun korban jiwa.

Tantangan lapangan dalam penanganan

Tantangan Lapangan dalam Penanganan tanah longsor di Jakarta Barat memerlukan koordinasi penanganan yang matang. Faktor geografis, curah hujan tinggi, dan kondisi aliran sungai yang rentan erosi membuat pekerjaan di lapangan menjadi sulit. Tim yang bertugas harus menyesuaikan strategi dan alokasi sumber daya agar pemasangan tanggul darurat dapat berjalan efektif dan risiko longsor susulan dapat diminimalkan.

Penanganan tanah longsor di Jakarta Barat menghadapi sejumlah tantangan, antara lain faktor geografis, curah hujan tinggi, dan kondisi aliran sungai yang rentan erosi. Infrastruktur di beberapa titik sulit di jangkau sehingga proses pengerjaan tanggul darurat memerlukan koordinasi yang cermat.

Koordinasi antarunit Satuan Tugas SDA, petugas kecamatan, dan warga menjadi kunci keberhasilan. Dengan sistem kerja yang terintegrasi, penanganan darurat dan pembangunan tanggul permanen dapat di lakukan dengan cepat dan efektif. Pengawasan dan evaluasi juga di lakukan untuk memastikan setiap langkah sesuai prosedur keselamatan dan teknis.

Selain itu, perubahan pola hujan dan peningkatan curah hujan ekstrem menjadi faktor risiko tambahan. Kondisi ini menuntut penyesuaian strategi penanganan, termasuk kesiapsiagaan menghadapi potensi longsor di titik lain sepanjang aliran Kali Angke. Dengan pendekatan mitigasi berbasis risiko, pihak berwenang dapat menekan kemungkinan kerusakan lebih parah dan meningkatkan keselamatan masyarakat.

Upaya jangka panjang juga mencakup pemantauan rutin terhadap kondisi tanah dan aliran sungai, serta sosialisasi kepada warga tentang langkah-langkah keselamatan. Penerapan sistem peringatan dini dan evaluasi berkala terhadap titik-titik rawan di harapkan dapat mempercepat respons saat hujan ekstrem terjadi. Dengan kombinasi mitigasi fisik dan kesiapsiagaan masyarakat, risiko bencana dapat di kurangi secara signifikan, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap Tanah Longsor.