Latihan Lengkung Leher Nenek-Nenek Tiongkok Bikin Heboh

Latihan Lengkung Leher Nenek-Nenek Tiongkok Bikin Heboh

Latihan Lengkung Leher dari media sosial Tiongkok sedang ramai membicarakan fenomena unik yang melibatkan sekelompok nenek-nenek yang melakukan latihan fisik tidak biasa di ruang publik. Mereka di kenal karena melakukan gerakan “lengkung leher” — sebuah teknik peregangan ekstrem yang menonjolkan fleksibilitas tinggi, di mana leher di tekuk hingga hampir menyentuh punggung atas atau bahkan pinggang. Aksi ini di lakukan secara kompak dan teratur di taman kota, dan videonya telah menjadi viral di platform seperti Weibo, Douyin (TikTok versi Tiongkok), dan Xiaohongshu.

Fenomena ini pertama kali menarik perhatian publik saat seorang pejalan kaki mengunggah video sekelompok lansia perempuan di kota Chengdu, Provinsi Sichuan, yang sedang berlatih bersama sambil memainkan musik tradisional lembut. Dengan mengenakan baju olahraga berwarna cerah, mereka tampak begitu lincah dan terkoordinasi, bergerak seperti penari profesional. Namun yang paling menarik perhatian adalah gerakan leher yang ekstrem dan tampak nyaris tidak mungkin di lakukan oleh orang seusia mereka.

Sejak saat itu, berbagai kelompok serupa di kota-kota lain mulai bermunculan dan memperlihatkan latihan mereka secara publik. Di Shanghai, Beijing, hingga Guangzhou, taman-taman kota mulai di isi oleh komunitas lansia yang ingin meniru gaya latihan yang kini di sebut “Qiaojing Gong” atau “Lengkung Leher Elegan”. Komunitas ini tidak hanya menjadi simbol gaya hidup sehat, tetapi juga memperlihatkan semangat positif dari para lansia dalam menjaga kebugaran dan kualitas hidup.

Latihan Lengkung Leher di tengah perhatian luas dari publik, sejumlah influencer dan pelatih kebugaran juga ikut mencoba tantangan “lengkung leher” dan mengunggahnya ke media sosial mereka. Tantangan ini kini menjadi tren nasional di Tiongkok, bahkan mulai di lirik oleh komunitas yoga dan gerakan kebugaran internasional.

Sejarah Dan Filosofi Di Balik Gerakan Latihan Lengkung Leher ‘Qiaojing Gong’

Sejarah Dan Filosofi Di Balik Gerakan Latihan Lengkung Leher ‘Qiaojing Gong’ memiliki akar yang dalam dalam budaya Tiongkok. Istilah “Qiao” berarti melengkung, sedangkan “Jing” mengacu pada bagian leher atau tulang belakang atas. Latihan ini merupakan bagian dari rangkaian gerakan peregangan tubuh yang terinspirasi dari teknik seni bela diri dan terapi energi tradisional Tiongkok, mirip dengan qigong dan tai chi.

Menurut beberapa praktisi senior, latihan ini sudah di lakukan sejak beberapa dekade lalu oleh komunitas lansia di desa-desa pegunungan sebagai bagian dari metode penyembuhan alami untuk masalah leher dan punggung. Mereka percaya bahwa menjaga kelenturan leher dan tulang belakang akan memperlancar aliran energi dalam tubuh, meningkatkan keseimbangan, dan mencegah pikun.

Salah satu tokoh utama yang mempopulerkan kembali teknik ini adalah Nyonya Liu, seorang pensiunan guru olahraga berusia 72 tahun dari Chengdu. Dalam wawancaranya dengan media lokal, Liu menjelaskan bahwa ia telah mempraktikkan teknik ini sejak usianya 40-an. Ia menggabungkan prinsip-prinsip pengaturan napas, fokus mental, dan kelenturan tubuh yang di latih secara bertahap selama bertahun-tahun. Menurutnya, latihan ini tidak boleh di lakukan sembarangan dan membutuhkan disiplin, serta pemahaman terhadap anatomi tubuh.

Liu menyebut bahwa setiap gerakan dalam Qiaojing Gong memiliki makna filosofis. Lengkung leher misalnya, melambangkan kerendahan hati, pelepasan ego, dan pembebasan dari ketegangan batin. Selain itu, posisi tubuh yang di tarik ke belakang membantu membuka cakra jantung dan tenggorokan dalam keyakinan pengobatan energi Tiongkok.

Kini, banyak praktisi kebugaran mulai tertarik mengkaji ulang filosofi gerakan tradisional ini. Beberapa akademisi dari universitas di Beijing bahkan sedang meneliti potensi manfaatnya dalam terapi gangguan tulang belakang dan kesehatan mental lansia. Mereka menganggap bahwa Qiaojing Gong bisa menjadi pendekatan baru dalam program kebugaran lansia yang lebih terintegrasi dan berbasis budaya lokal.

Respons Publik Dan Reaksi Dunia Kesehatan

Respons Publik Dan Reaksi Dunia Kesehatan, tidak sedikit pula yang menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak latihan ini terhadap kesehatan, terutama jika di lakukan oleh lansia tanpa pengawasan ahli. Para profesional medis memperingatkan bahwa gerakan ekstrem seperti melengkungkan leher ke belakang secara berlebihan berisiko tinggi terhadap cedera saraf, terutama pada orang dengan masalah tulang belakang, skoliosis, atau osteoporosis.

Asosiasi Dokter Rehabilitasi Tiongkok (CDRA) dalam pernyataannya menegaskan bahwa gerakan seperti Qiaojing Gong hanya boleh di lakukan oleh mereka yang sudah melalui pemeriksaan medis lengkap dan di pandu oleh pelatih profesional. Beberapa dokter bahkan menyebut bahwa meskipun terlihat elegan, gerakan itu bisa menyebabkan saraf kejepit atau di slokasi jika di lakukan sembarangan.

Namun demikian, banyak juga pakar kesehatan yang melihat sisi positif dari tren ini. Menurut mereka, fakta bahwa para lansia bersedia aktif bergerak, bersosialisasi, dan menjaga tubuh tetap lentur merupakan prestasi tersendiri dalam dunia kesehatan masyarakat. Banyak lansia di Tiongkok yang sebelumnya pasif dan tertutup, kini menemukan motivasi baru untuk hidup sehat berkat tren ini.

Reaksi masyarakat pun beragam. Sebagian orang tua yang menonton video-video viral itu merasa terinspirasi untuk memulai gaya hidup lebih sehat. Namun ada juga yang merasa minder karena merasa tidak mampu menandingi kelincahan para “super nenek” tersebut. Para ahli psikologi menyarankan agar masyarakat tidak menjadikan tren ini sebagai standar, melainkan sebagai inspirasi untuk bergerak sesuai kapasitas masing-masing.

Sementara itu, pemerintah lokal di beberapa kota telah merespons positif dengan menyediakan pelatihan gerakan peregangan dasar. Yang aman di pusat lansia, serta mengundang ahli terapi fisik untuk memberikan panduan khusus latihan ringan bagi usia lanjut. Ini di anggap sebagai langkah proaktif dalam mengakomodasi tren sambil tetap menjaga keselamatan warganya.

Potensi Pariwisata Dan Ekspor Budaya Kebugaran Tiongkok

Potensi Pariwisata Dan Ekspor Budaya Kebugaran Tiongkok atau latihan lengkung leher ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan. Tetapi juga mulai di lirik sebagai potensi baru dalam sektor pariwisata budaya dan ekspor gaya hidup. Pemerintah kota Chengdu, tempat gerakan ini mulai populer. Bahkan mulai mempromosikan komunitas “super nenek” ini sebagai bagian dari atraksi budaya urban.

Wisatawan domestik dan mancanegara mulai berdatangan ke taman-taman kota setiap pagi. Untuk menyaksikan secara langsung latihan yang kini menjadi simbol gaya hidup sehat ala lansia Tiongkok. Beberapa travel agent telah membuat paket wisata bertema “Wisata Sehat dan Spirit Lansia Tiongkok”. Lengkap dengan sesi belajar Qiaojing Gong, mencicipi teh herbal, dan mengikuti meditasi tradisional.

Tak hanya itu, pelatih-pelatih lansia yang tergabung dalam komunitas ini mulai. Menerima undangan dari luar negeri untuk mengisi workshop di Asia Tenggara, Jepang, dan bahkan Eropa. Mereka di anggap sebagai simbol inspirasi lintas budaya—bahwa usia bukanlah batas untuk aktif dan fleksibel. Media internasional seperti BBC, NHK, dan Al Jazeera pun telah meliput fenomena ini dalam segmen gaya hidup dan budaya.

Di dalam negeri, perusahaan teknologi kebugaran mulai merancang aplikasi. Yang berisi panduan digital Qiaojing Gong dengan fitur pelatihan bertahap dan pengingat jadwal latihan. Beberapa brand fesyen olahraga juga telah meluncurkan koleksi pakaian latihan khusus lansia terinspirasi dari pakaian para “super nenek” tersebut.

Fenomena ini membuktikan bahwa budaya lokal bisa berkembang menjadi gerakan sosial dan ekonomi yang berdampak luas. Dari taman kecil di Chengdu, gerakan ini telah menyebar ke seluruh negeri dan menjadi simbol baru. Semangat hidup sehat di usia senja. Dengan pendekatan yang bijak, aman, dan terstruktur, Qiaojing Gong berpotensi. Menjadi ekspor budaya kebugaran yang bisa menginspirasi dunia dengan Latihan Lengkung Leher.